Rabu, 11 Februari 2015

GEARS PENUNJANG GAYA LARI

Sejak dua - tiga tahun terakhir ini, lari sudah menjadi gaya hidup kaum urban. Tujuannya yaa macem-macem, ada yang giat lari karena emang hobby, ada yang pengen sehat, pengen kurus atau yang sekedar pengen eksis dan bisa pencitraan di sosmed (gue salah satunya kayaknya :D)

Komunitas lari pun tumbuh subur kayak jamur di musim hujan (eh bener gak?). Tersebar di setiap kota di penjuru tanah air. Ada komunitas yang udah besar dan punya cabang di tiap kota kayak Indorunner, ada juga yang based on area tempat tinggal, kantor, atau emang murni karena pertemanan.

Soal komunitas lari akan gue ceritain lain kali (mudah-mudahan lagi kumat pengen nulis yaa). Kali ini gue mau cerita soal gears alias perlengkapan pendukung lari, yang kalau dihitung-hitung lumayan juga harganya (SIAPA BILANG LARI OLAH RAGA MURAH YAAA? SALAAAH BANGEET, HIHI)

Berikut ini beberapa gears penunjang gaya para runner yang masuk radar gue:

1. Sepatu lari

Sepatu lari ini adalah investasi yang wajib dikeluarkan para runner. Ya iyalah, masa mau lari nyeker (ada siih yang biasa lari nyeker, tapi takut ketusuk beling kalau gue). Untuk lari yang enak dan menghindari cidera, sebaiknya kita memilih sepatu lari yang bener dan sesuai dengan jenis kaki kita. Dari beberapa artikel yang gue baca, yang sering dipakai untuk memilih sepatu lari adalah pronation atau arah kaki kita menapak saat kita berlari. Ada 3 macam pronation:

- Over Pronation
Disebut over pronation kalau pas lari, lebih banyak kaki bagian dalam yang menapak ke permukaan tanah/jalan/ track.

- Under Pronation / Suspinate
Kebalikan dari over pronation, under pronation atau suspinate ini lebih banyak kaki bagian luar yang menapak ke permukaan saat lari.

- Neutral / Normal Pronation
Sebagian besar orang banyak yang masuk kategori neutral atau normal pronation ini. Gue contohnya. Jadi kalau napak, kakinya ya gak terlalu keluar atau kedalam. Tengah-tengah aja.

Satu dari dua pasang sepatu lari gue (iyaa baru 2 aja kok sepatu lari gue yang bener )
Nah, jadi sebaiknya kita tau dulu jenis kaki kita sebelum memutuskan beli sepatu lari. Gue gak akan ngomongin merk deh, karena urusan merk itu sangat subyektif,  tergantung selera dan budget tentunya. Tapi merk yang hits di kalangan runner biasanya sih Asics. Kayaknya kalau udah pake asics itu berasa runner bingiiits, biarpun harganya gak muraaah ya. Asics di Jakarta untuk tipe Nimbus 15 (yang the latest itu udah Nimbus 16) harganya dibanderol 2.7 jutaan. Kalau di US harganya US$ 150 untuk tipe Nimbus 16, sementara untuk Kayano 21 harganya US$ 160.
   
    

2.  Sport watch/ jam lari

Suunto Ambit 3, nunjukin jarak lari gue (19.99 K) dan waktu (2 jam 38 menit 38 detik)


Nah ini sebenarnya butuh gak butuh sih. Fungsinya ya untuk ngukur jarak, pace, heart rate (gak semua jam sih) dan kalori yang terbakar selama kita lari. Fungsi-fungsi itu sebenarnya udah bisa didapat dari apps yang ada di smart phone kayak Nike+ atau Endomondo. Gue baru dua bulan ini aja sih beli jam untuk lari ini. Setelah pakai, emang lebih praktis sih jadi kita tinggal liat jam aja untuk tau udah berapa jauh kita lari dan berapa kecepatan lari per kilometer. Gak perlu buka-buka hp yang butuh extra effort kalau kita lagi lari. Sebenarnya gue udah pakai jam Suunto sejak tahun 2010, saat Suunto lebih dikenal dikalangan para diver daripada para runner. Tapi ya emang bukan Suunto untuk running, jadi gak bisa dipake untuk lari juga. Makanya akhirnya setelah ngerayu suami untuk subsidi, jadilah gue punya juga Suunto Ambit 3 yang fiturnya gak cuma untuk lari, tapi bisa untuk triathlon (eh yaa siapa tau kan nanti pengen triathlon yaa, namanya juga lebih baik sedia payung sebelum hujan yaah). 

Beberapa merk sport watch yang populer di kalangan runner selain Suunto ada juga Garmin, Nike, Tomtom dan Polar. Kalau mau beli Suunto, paling murah itu belinya di toko Star Time yang ada di Gandaria City, Pondok Indah Mall dan mall lain yang gue gak begitu hafal. Kalau Garmin katanya yang paling murah itu di Asia Digital di STC Senayan. Tapi stocknya suka kosong dan harus pesan. 




3. Earphone   

Earphone dipakai untuk dengerin musik saat lari. Sebenarnya dengerin musik saat lari itu juga ada pro-kontranya, terutama buat solo runner dan lari di jalan raya, karena kita jadi gak aware kalau ada mobil atau motor yang nyelonong atau ada anjing yang tiba-tiba mau ikutan lari di belakang kita. Dan dari beberapa artikel yang gue baca, lari tanpa musik itu bisa bikin kita lebih fokus dan mengenal tubuh kita sendiri. Tapi setiap orang itu beda kan? Gue pas awal-awal lari selalu pake iPod kalau lari. Tapi begitu agak serius dan mulai ikut coaching mulai nyoba lari tanpa musik. Tapi terakhir-terakhir ini, mulai terasa bosan terutama kalau lagi jogging sendiri keliling kompleks doang kalau tanpa musik. Akhirnya nyoba lagi pake musik deh sekarang. 

Tips untuk yang biasa lari pake musik:
- Volume jangan terlalu kencang sampai gak bisa dengar suara lain di sekitar kita. Kita lah yang harus bertanggung jawab atas keselamatan diri kita sendiri.
- Biasain lari lawan arah kalau lagi lari di jalan raya. Itu lebih safe karena kita bisa mobil dan motor yang ada di depan kita. 
- Kalau bisa pake earphone yang pake bluetooth, pertama gak ribet karena gak pake kabel, yang kedua biar gak terlalu mengundang orang-orang jahat yang suka ngincer smartphone yang dipake para runner/goweser.



4. Fuel belt/ tas pinggang

Fungsinya untuk nyimpen handphone, uang secukupnya, kunci mobil/motor dan id card terutama kalau kita lagi lari dengan jarak cukup jauh dari rumah. Beberapa tas pinggang juga dilengkapi tempat untuk nyimpan botol minumnya. Kalau gue biasanya bawa satu botol minum kecil aja di fuel belt kalau lari. Bukan apa-apa, beraaat kalau lari bawaannya kebanyakan. 




Nah itu beberapa gears yang masuk radar gue. Ini belum termasuk apparel yang kalau mau diikutin juga gak ada habisnya, hahaha. Gears untuk nambah gaya saat lari sih buat gue sah-sah aja, selama gears itu nambah semangat kita untuk tetap berlari. Yang penting jangan sampai Gears nya garang, larinya jarang…

Happy Running….